Friday, November 4, 2011

deteksi berahi


DETEKSI BERAHI


Deteksi berahi sebaiknya dilakukan 3 kali sehari (pagi, siang, dan sore). Deteksi berahi bisa dilakukan dengan sistem aktif (Inseminator yang melakukan), semi aktif (ada kotak pos IB tempat memasukkan kartu ternak yang sedang berahi dan dibarengi dengan menaikkan bendera ungu), dan pasif (kalau peternak yang melakukan deteksi berahi). Sebaiknya diambil kesepakatan dan disarankan peternak yang mendeteksi berahi (pasif).
Cara deteksi berahi dengan sistem pasif, peternak harus segera melaporkan kepada fuseminator setelah tampak gejala berahi.
Gejala berahi dikenal dengan istilah 3A+/3B+/3m+/dot. Artinya vulva bengkak, merah, dan basah (ada lendir transparan menggantung atau keluar dari vulva). Tanda (+) menunjukkan gejala naik-menaiki temannya (Sesama betina) atau diam bila dinaiki pejantan, mengangkat-angkat ekornya, kurang nafsu makan, sering menguak, dan bila dipalpasi rektal serviks akan membuka.





Gambar anatomi organ reproduksi betina :

inseminator 
























Anatomi organ reproduksi betina (lihat gambar 5-1) terdiri atas :
1.       Ovarium (kiri dan kanan) yang berfungsi untuk menghasilkan sel telur (ovum) dan hormon (FSH, LH, Estrogen, Progesteron, dan Relaksin)
2.       Tuba Fallopii (oviduk) sebagai tempat pembuahan (Fertilisasi)
3.       Uterus yang terdiri atas 2 bagian yaitu Corpus (Badan) uteri dan Cornua (tanduk) uteri. Uterus berfungsi sebagai tempat memelihara Fetus (anak dalam kandungan), menghasilkan hormon Progesteron dan Prostaglandin, dan tempat deposisi (menyemprotkan) semen pada pangkal korpus uteri (posisi-4) dengan cara IB.
4.       Cervix yang terdiri atas 3 lipatan (posisi-1, 2, dan 3) berfungsi untuk membuka pada waktu berahi (estrus) atau mau melahirkan, menghasilkan lendir berahi yang transpran (tembus-terang = jernih), dan menutup kalau tidak berahi atau bunting.
5.       Vagina yang berfungsi sebagai tempat menampung semen dengan cara kawin alam.
6.       Vulva sebagai tempat mengarahkan penis pada waktu kawin alam atau Gun inseminasi waktu melakukan IB.
7.       Klitoris yang identik dengan penis pada jantan sebagai perangsang dalam pelaksanaan perkawinan.









WAKTU  IB


Berdasarkan teori, waktu terbaik untuk melakukan IB adalah pertengahan sampai 6 jam setelah akhir berahi (9-24 jam setelah munculnya gejala berahi). Dengan catatan lama berahi (pada sapi) 18 jam dan siklus berahi / jarak antara berahi dengan berahi berikutnya rata-rata 21 hari (18-24 hari).

Secara praktis IB dilakukan seperti berikut :

Ternak

Berahi
Waktu IB
Sapi
-

Pagi

-
Siang

-
Siang
-
Sore

-
Sore
-

Esok paginya





 

Kerbau
-

Pagi

-

Esok paginya


-
Siang
-

Esok Siangnya


-
Sore
-

Esok Sorenya


Pelaksanaan IB yang ceroboh tidak akan menghasilkan kebuntingan sehingga akan merugikan waktu (menunda kebuntingan), tenaga, biaya, bahkan merusak alat reproduksi betina akseptor sehingga terjadi endometritis, menularkan penyakit veneris, menyebabkan keguguran pada betina bunting, dan angka konsepsi rendah.



PENANGANAN MANI BEKU


Mani beku sebaiknya disimpan dalam konteiner LNG (bejana) yang selalu penuh dengan N2 cair. Kalau mani beku berada dalam konteiner depo sebaiknya dipindahkan segera ke dalam konteiner LNG (isi 30 liter N2 cair) supaya konteiner depo hanya sebagai tempat penyimpanan N2 cair. Pemindahan mani beku dari konteiner ke konteiner lainnya harus cepat dan kalau dipindahkan/dimasukkan ke dalam termos IB, kanister hanya sampai batas leher konteiner dan dalam termos IB yang sudah diisi penuh N2 cair lebih dahulu baru diisi straw sesuai dengan jumlah betina yang dilaporkan berahi dan jika ada straw yang sisa dalam termos IB, maka straw yang sisa tidak boleh dikembalikan ke dalam konteiner.
Di setiap lokasi IB sebaiknya terdapat 2 konteiner LNG, satu berisi N2 cair dan bibit N2 cair untuk diisikan pada konteiner yang ada bibit (straw) bila N2 cair di dalamnya sudah berkurang, dan dibawa ke tempat pengisian N2 cair. Konteiner LNG yang ada bibit sebaiknya diukur N2 cairnya setiap 2 minggu dan tidak boleh N2 cair kurang dari ukuran ½ konteiner. Kalau ada konteiner lapangan (isi 4-5 i N2 cair) sebaiknya diisi N2 cair setiap 4 hari, tergantung pemakaiannya maka sebaiknya diisi N2 cair setiap hari sampai penuh.

TEKNIK IB DENGAN  MANI BEKU


1.        Kalau ada betina yang dilaporkan berahi dan sudah saatnya di IB sesuai dengan jadwal atau aturan tersebut di atas, maka sapi tersebut dimasukkan ke dalam kandang jepit.
2.        Ambil sarung tangan plastik dan pasang di tangan kiri kemudian tangan kiri tersebut dimasukkan ke dalam rektum setelah diberi sabun untuk mengeluarkan feses (kotoran) yang ada di dalamnya dan periksa apakah serviks membuka (benar berahi) pakai baju dan sepati lapangan kalau ada.
3.        Kalau memang berahi, siapkan ember yang berisi air dingin yang bersih, gun IB, pinset, gunting, tissu, handuk kecil, plastik sheat satu buah dikeluarkan dari bungkusnya sebatas warna hijau, dan termos IB yang berisi bibit dan penuh N2 cair.
4.        Ambil bibit (Straw) dari thermos dengan pinset sesuai bibit yang diinginkan/lihat catatan warna straw dan lakukan thawing 10 detik dalam ember yang berisi air dingin yang bersih.
5.        Straw dilap dengan tissu, masukkan segera ke dalam gun IB dengan posisi straw yang dipress sebelah atas gun IB, kemudian gunting ujung straw yanng dipress, bungkus gun Ib dengan plastik sheat, dan eratkan dengan cincin gun IB.
6.        Gun IB digigit karena tangan kanan memberi sabun pada tangan kiri yang ada sarung tangan plastik, menempatkan ekor di atas tangan kiri pada sebelah kanan, dan mengambil tissu untuk melap vulva dari atas ke bawah.
7.        Masukkan gun IB ke dalam alat reproduksi betina dan semprotkan (deposisikan) semen pada posisi-4 sejak Thawing hingga saat semen disemprotkan berlangsung 2 menit dan paling lama 5 menit.
8.        Tarik gun Ib secara perlahan dan serviks diangkat sedikit supaya semen yang disemprotkan tadi tidak tumpah keluar.
9.        Buang plastik sheat (satu kali pakai) dan straw diambil dan catat semua tulisan yang ada pada straw. Lanjutkan IB kalau masih ada laporan berahi di tempat lain hari itu.
10.    Isi catatan (recording) buku harian Inseminator dan buat laporan secara berjenjang (PKB, ATR, Dinas Kabupaten dan Dinas Propinsi).
11.    Setelah IB, 18-24 hari kemudian dicek kembali apakah sapi itu masih berahi atau tidak. Kalau berahi, IB kembali dan kalau tidak berahi, kemungkinan bunting. Tiga kali dicek setiap 18-24 hari. kalau sudah tiga kali di IB tidak bunting, lapor kepada ATR (Dokter hewan setempat) dan kalau tiga kali 18-14 hari tidak berahi lagi, lapor kepaa PKB untuk diperiksa kebuntinganya.

PRAKTEK


Materi praktek hari pertama adalah mengenal alat kelamin betina yang diambil dari RPH, kemudian semua peserta secara berulang dan bergilir memasukkan gun IB ke dalam saluran reproduksi alat kelamin tersebut.
Praktikum berikutnya pada hari itu adalah pengenalan alat-alat IB dan cara penanganannya.
Praktikum pada hari ke-2 dan seterusnya adalah latihan dan keterampilan memasukkan gun IB ke dalam saluran reproduksi sapi betina yang kondisinya berbeda-beda, secara bergantian dan bergilir sampai mahir memasukkan gun IB pada posisi-4.
Hari terakhir praktikum adalah melakukan IB sesuai petunjuk di atas dan sekaligus merupakan ujian.
Setelah peserta kembali ke lokasinya masing-masing mereka melakukan magang pada Inseminator IB yang sebelum itu terlebih dahulu mengumpulkan anggota KPPIB-nya untuk melakukan penyuluhan tentang IB.
Satu sampai tiga bulan kemudian calon Inseminator dicek oleh konsultan berapa akseptor yang sudah di IB dan berapa yang berhasil bunting, baru diberikan SIMI oleh dinas peternakan Propinsi
**** Sekian dan Selamat Bertugas ****
Gambar :  Anatomi organ reproduksi betina
inseminator
 










Anatomi organ reproduksi betina terdiri atas :
8.            Ovarium (kiri dan kanan) yang berfungsi untuk menghasilkan sel telur (ovum) dan hormon (FSH, LH, Estrogen, Progesteron, dan Relaksin)
9.            Tuba Fallopii (oviduk) sebagai tempat pembuahan (Fertilisasi)
10.        Uterus yang terdiri atas 2 bagian yaitu Corpus (Badan) uteri dan Cornua (tanduk) uteri. Uterus berfungsi sebagai tempat memelihara Fetus (anak dalam kandungan), menghasilkan hormon Progesteron dan Prostaglandin, dan tempat deposisi (menyemprotkan) semen pada pangkal korpus uteri (posisi-4) dengan cara IB.
11.        Cervix yang terdiri atas 3 lipatan (posisi-1, 2, dan 3) berfungsi untuk membuka pada waktu berahi (estrus) atau mau melahirkan, menghasilkan lendir berahi yang transpran (tembus-terang = jernih), dan menutup kalau tidak berahi atau bunting.
12.        Vagina yang berfungsi sebagai tempat menampung semen dengan cara kawin alam.
13.        Vulva sebagai tempat mengarahkan penis pada waktu kawin alam atau Gun inseminasi waktu melakukan IB.
14.        Klitoris yang identik dengan penis pada jantan sebagai perangsang dalam pelaksanaan perkawinan.

DETEKSI BERAHI

Deteksi berahi sebaiknya dilakukan 3 kali sehari (pagi, siang, dan sore). Deteksi berahi bisa dilakukan dengan sistem aktif (Inseminator yang melakukan), semi aktif (ada kotak pos IB tempat memasukkan kartu ternak yang sedang berahi dan dibarengi dengan menaikkan bendera ungu), dan pasif (kalau peternak yang melakukan deteksi berahi). Sebaiknya diambil kesepakatan dan disarankan peternak yang mendeteksi berahi (pasif).
Cara deteksi berahi dengan sistem pasif, peternak harus segera melaporkan kepada fuseminator setelah tampak gejala berahi.
Gejala berahi dikenal dengan istilah 3A+/3B+/3m+/dot. Artinya vulva bengkak, merah, dan basah (ada lendir transparan menggantung atau keluar dari vulva). Tanda (+) menunjukkan gejala naik-menaiki temannya (Sesama betina) atau diam bila dinaiki pejantan, mengangkat-angkat ekornya, kurang nafsu makan, sering menguak, dan bila dipalpasi rektal serviks akan membuka.
WAKTU  IB
Berdasarkan teori, waktu terbaik untuk melakukan IB adalah pertengahan sampai 6 jam setelah akhir berahi (9-24 jam setelah munculnya gejala berahi). Dengan catatan lama berahi (pada sapi) 18 jam dan siklus berahi / jarak antara berahi dengan berahi berikutnya rata-rata 21 hari (18-24 hari).

Secara praktis IB dilakukan seperti berikut :

Ternak

Berahi
Waktu IB
Sapi
-

Pagi

-
Siang

-
Siang
-
Sore

-
Sore
-

Esok paginya





 

Kerbau
-

Pagi

-

Esok paginya


-
Siang
-

Esok Siangnya


-
Sore
-

Esok Sorenya


Pelaksanaan IB yang ceroboh tidak akan menghasilkan kebuntingan sehingga akan merugikan waktu (menunda kebuntingan), tenaga, biaya, bahkan merusak alat reproduksi betina akseptor sehingga terjadi endometritis, menularkan penyakit veneris, menyebabkan keguguran pada betina bunting, dan angka konsepsi rendah.
PENANGANAN MANI BEKU
Mani beku sebaiknya disimpan dalam konteiner LNG (bejana) yang selalu penuh dengan N2 cair. Kalau mani beku berada dalam konteiner depo sebaiknya dipindahkan segera ke dalam konteiner LNG (isi 30 liter N2 cair) supaya konteiner depo hanya sebagai tempat penyimpanan N2 cair. Pemindahan mani beku dari konteiner ke konteiner lainnya harus cepat dan kalau dipindahkan/dimasukkan ke dalam termos IB, kanister hanya sampai batas leher konteiner dan dalam termos IB yang sudah diisi penuh N2 cair lebih dahulu baru diisi straw sesuai dengan jumlah betina yang dilaporkan berahi dan jika ada straw yang sisa dalam termos IB, maka straw yang sisa tidak boleh dikembalikan ke dalam konteiner.
Di setiap lokasi IB sebaiknya terdapat 2 konteiner LNG, satu berisi N2 cair dan bibit N2 cair untuk diisikan pada konteiner yang ada bibit (straw) bila N2 cair di dalamnya sudah berkurang, dan dibawa ke tempat pengisian N2 cair. Konteiner LNG yang ada bibit sebaiknya diukur N2 cairnya setiap 2 minggu dan tidak boleh N2 cair kurang dari ukuran ½ konteiner. Kalau ada konteiner lapangan (isi 4-5 i N2 cair) sebaiknya diisi N2 cair setiap 4 hari, tergantung pemakaiannya maka sebaiknya diisi N2 cair setiap hari sampai penuh.



hormon pada ternak


A.    Definisi Hormon,
            Hormon adalah merupakan zat organik yang dihasilkan oleh sel tertentu dalam jumlah yang sedikit dan dirembeskan ke dalam pembuluh darah menuju organ target sehingga organ tersebut berfungsi.Selain hormon ada pula peromon dan kairomon Pheromon adalah salah satu substansi tertentu yang disekresikan oleh beberapa organ tubuh tertentu yang memiliki tungsi tertentu. Kairomon adalah  hormon yang dihasilakan loh 2 individu yang berbeda
Hormnon pada kelenjar gonad

Hormon
struktur
Sasaran
Aksi
Testis
Androgen
Steroid              
-
Spermatogenesis, mempertahankan fungsi organ reproduksi, ciri kelamin sekunder, dan perilaku seksual
Ovarium
Estrogen





Progesteron




Steroid     

Steroid                      

-


-

Perkembangan dan fungsi uterus dan kelenjar susu, struktur genitalia, ciri kelamin sekunder, perilaku seksual, siklus menstruasi, perkembangan dan fungsi uterus           

Perkembangan struktur genitalia eksterna, ciri kelamin sekunder, siklus menstruasi

B.   Hormon-Hormon yang Mempengaruhi Ovulasi diantaranya :
1.  GnRH (Gonadotrophin Releasing Hormone)
            GnRH  dihasilkan di Hypothalamus  yang akan mempengaruhi anterior pituitary untuk menghasilkan hormon FSH (Folicle Stimulating Hormone) dan LH (Luitenizing Hormone).Kemudian FSH dan LH berfungsi untuk :
  • Stimulasi gamet
  • Stimulasi sekresi hormon reproduksi
  • Mempertahankan pertumbuhan/perkembangan struktur gonad.
2.      FSH (Folicle stimulating Hormone)
            Diproduksi di sel-sel basal hipofisis anterior ,sebagai respon terhadap GnRH. Berfungsi memicu pertumbuhan dan pematangan folikel dan sel-sel granulosa di ovarium wanita
3.      LH (Luitenizing Hormone)
            Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. Bersama FSH ,LH berfungsi memicu perkembangan folikel ( sel-sel teka dan granulosa) dan mencetuskan terjadinya ovulasi di pertengahan siklus  (LH-surge).
4.   Estrogen
            Estrogen diproduksi terutama oleh sel-sel teka interna folikel di ovarium secara primer , dan dalam jumlah lebih sedikit juga diproduksi di kelenjar adrenal melalui konversi hormon androgen. Berfungsi dalam stimulasi pertunbuhan dan perkembangan (proliferasi) pada berbagai organ reproduksi wanita. Pada uterus dapat menyebabkan proliferasi endometrium.
5.   Progesteron
            Progesteron diproduksi terutama di korpus luteum di ovarium, sebagian diproduksi di kelenjar adrenal dan pada kehamilan juga diproduksi di plasenta. Progesteron menyebabkan terjadinya proses perubahan sekretorik pada endometrium uterus, yang mempersiapkan endometrium uterus berada pada keadaan optimal jika terjadi implantasi.








Mekanisme Hormon yang Mempengaruhi Ovulasi
bagan 1

Lewat pesan kimia hormon mengirimkan isyarat ke otak untuk mengeluarkan sebuah hormon tertentu (FSH). Hormon ini merangsang indung telur untuk

menyiapkan sel telur yang matang, kemudian sel telur akan mengeluarkan estrogen. Hormon estrogen tersebut akan menghentikan kerja hormon FSH, sehingga sel telur yang lain menjadi tidak matang. Karena hanya dibutuhkan satu sel telur saja yang siap dibuahi setiap siklusnya. Kadar hormon FSH menurun dan dikeluarkan hormon LH. Hormon ini bertugas untuk melepaskan sel telur matang (ovulasi), yang kemudian ditangkap oleh fimbria yang fungsi dan bentuknya seperti tangan untuk memasukan sel telur melalui tuba fallovi untuk menuju rahim. Sementara itu dikeluarkanpula hormon progesteron untuk menghantikan kerja hormon LH, sehingga tidak terjadi pelepasan sel telur.
            Estrogen dan progesteron pada saat bersamaan mempersiapkan jaringan pembuluh darah (endometrium) pada rongga rahim. Jaringan pembuluh darah ini dibuat untuk persiapan apabila terjadi pembuahan. Jika tidak terjadi pembuahan, sel telur pada lapisan tersebut akan luruh berupa darah menstruasi. Silkus ini terjadi tiap bulan yang yang berlangsung selama kurang lebih 3-7 harI
























DAFTAR PUSTAKA






































defenisi dan fungsi organ reproduksi



  • Fertilisasi adalah proses peleburan sel kelamin jantan (sperma) dengan sel kelamin betina (ovum). Fertilisasi terjadi pada oviduct/tuba falopian pada daerah AIJ (Ampulla Isthmus Jungtion). Fertilisasi berlangsung di dalam organ reproduksi betina. Peroses ini akan berlangsung pada ternak pada kondisi-kondisi tertentu dan melibatkan fungsi hormonal.
  • Zygote merupakan hasil fertilisasi (pembuahan) yang terjadi di dalam tubuh ternak betina pada organ reproduksi. Zygote akan terbentuk setelah terjadi pembuahan yaitu peleburan antara sperma dan ovum. Terbentuknya zygote sebagai awal perkembangan embrio yang nantinya akan mengalami diferensiasi.
  • Embryo merupakan bakal anak (fetus). Terbentuk setelah melalui tahap-tahap embrional yang diawali dengan pembentukan morula – blastula – gastrula – dan embryonal. Dalam proses ini sel-sel akan mengalami pembelahan (diferensiasi) mitosis dan miosis.
  • Cleavage (belahan) berlangsung dalam proses embrional dan merupakan bagian dari embrio.
  • Differentional desebut juga dengan pembelahan, ini terjadi pada tahap perkembangan embrio dimana entoterm akan berdiferensiasi membentuk bakal usus , dan sejalan dengan perkembangan embryo maka entodrm membentuk alantois dan kandungan kencing, pankreas, hati, saluran pencernaan, kelenjar gondok, parathiroid dan paru-paru. Sama halnya pada mesodrm yang merupakan lapisan sebelah luar blastula yang bertindak sebagai trophoblast. Lapisan luar itu sendiri disebut ectoderm. Ectoderm berkembang menjadi struktur yang membentuk jaringa syaraf seperti otak, sumsum tulang belakang, alat-alat peraba, kelenjar susu, kelenjar keringat, rambut, kuku dan email pada gigi.
  • Sex ratio (perbandingan jenis kelamin). Menurut penelitian bahwa ratio perbandingan jenis kelamin jantan terhadap betina lebih besar jantan, walaupun banyak terjadi abortus (mati dalam kandungan).  Dikatakan bahwa perbandingan jenis kelamin pada anak sapi dalam kandungan berbeda-beda tetapi perbandingannya cenderung ke arah angka perbandingan fetus jantan yang lebih besar pada waktu fetus itu berumur muda.
  • Perkembangan organ reproduksi, selama periode embrio bahan dasar alat-alat reproduksi baik pada hewan jantan maupun pada hewan betina sudah dipersiapkan. Di dalam embrio muda, gonad atau alat kelamin primer berada dalam keadaan indiferen, dan sampai pada saat ini belum ada bukti yang menunjukkan apakah individu itu akan membentuk ovarium atau testes. Namun penemuan terakhir menunjukkan bahwa sifat-sifat kromatin dapat digunakan untuk menentukan jenis kelamin jauh sebelum alat-alat reproduksi berdiferensiasi. Dengan berkembangnya embrio terjadi invaginasi di epitel lembaga yang membungkus punggung lipatan kelamin, dan terbentuklah simpul alat kelamin primer.




  • Perubahan nama-nama organ sesudah defferensiasi :
Tahap masa dini embrio indiferen
Pembentukan ke arah
Jantan a
Pembentukan ke arah
Betina a
Simpul kelamin primer
Simpul rete
Pembuluh wolffian
Saluran wolffian anterior

Saluran tengah dan belakang wolffian.
Saluran muller tengah
Saluran muller belakang
Kantung luar saluran
wolfifan bagian caudal
Kantung sinus urogenitalis
Kantung sinus urogenitalis
Benjolan kelamin
Lipatan kelenjar
Pengembungan kelamin

Tubules seminiferous
Rete testis
Vasa efferentia
Epididymis

Vasa defenstia

Menghilang
Uterus masculinus
Vasicula seminalis

Glandula prostata
Glandula bulbourethralis
Penis
Kelopak penis
Kantung scrotum
Simpul medullaris
Rete ovarii
Epoophoron
Bertautan dengan epoophoron
Parit gartner.

Tuba fallopian
Uterus
Rudimenter

Ductus skene
Kelenjar bulbo vestibularis
Clitoris
Labia minora
Labia majora.

·         Gambar organ reproduksi sebelum dan sesudah defferensiasi

ovulasi


A.             Siklus Birahi
1.      Birahi Secara Umum
           Walaupun setiap spesies memiliki ciri-ciri khas dari pola siklus birahinya, namun pada dasarnya adalah sama. Siklus birahi pada umumnya dibagi menjadi 4 fase atau periode yaitu  proestrus, estrus, metestrus, dan diestrus. Beberapa penulis memilih pembagian siklus birahi atas dua fase, yaitu fase folikuler atau estrogenetik yang meliputi proestrus dan estrus dan fase luteal dan progestational yang terdiri dari matestrus dan diestrus.
                 Fase proestrus adalah fase fase sebelum estrus yaitu periode dimana   folikel de Graaf bertumbuh di bawah pengaruh FSH dan menghasilkan  sejumlah estradiol yang makin bertambah. System reproduksi memulai persiapan-persiapan untuk pelepasan ovum dari ovarium.
Estrus adalah fase dimana hewan betina mem;perlihatkan gejala-gejala khusus untuk tiap hewan  dan pada fase ini pula hewan betina menerima pejantan untuk kopulasi. Tanda l,ain dari estrus adalah hewan menjadi gelisah, nafsu makan berkurang dan  ia lebih dekat dengan pejantan dan tidak lari ataupun berontak jika ditunggangi pejantan. Perubahan yang terjadi pada lat kelamin bagian dalam adalah pertumbuhan folikeel yang telah dsimulai pada waktu proesterus, kini menjadi maksimal, ovum yang dikandung oleh folikel telah cukup masak dan dinding folikel menjadi tipis dean mennjol keluar dari permukaan ovarium karena disini folikel telah menjadi maksimal. Terjadi ovulasi (pecahnya dinding folikel dan keluarnya ovum dari folikel ) . Dalam cervix jumlah lender maupun jumlah sekresi lender dalam tiap kelenjar lender bertabah. Pada vulva dan vagina tidak memperlihatkan perubahan yang banyak, hanya pada beberapa hewan dara (betina yang baru Pubertas) pada umummnya mengalami pembengkakan pada bagian tersebut
               Matestrus adalah fase dimana siklus birahi yang ditandai segera setelah estrus selesai. Gejala yang dapat terlihat tetapi dari luar tidak terlalu nyata, namun pada umumnya masih di dapatkan sisa gejala estrus. Korpus luteum bertumbuh cepat dari sel granulose folikel yang telah pecah di bawah pengaruh LHdari adenohypophysa. Matestrus sebagian besar berada di bawah pengaruh progestron yang dihasilkan korpus luteum. Progesterone menghambat sekresi FSH. Selama metestrus uterus mengadakan persiapan-persiapan seperlunya untuk menerima dan member makan pada embrio . Menjelang pertengahan sampai akhir metestrus, uterus menjadi agak lunakkarena pengendoran otot uterus.
               Diestrus adalah fase siklus birahi yang ditandai oleh tidak adanya kebuntingan, tidak adanya aktivitas kelamindan hewan menjadi tenang. Dalam periode permulaan diestrus endometrium masih memperlihatkan kegiatan, yaitu pertumbuhan kelenjar-kelenjar endomentrium dari panjang menjadi berekelok-berkelok dan banyak diantaranya berbentuk spiral, tetapi pada petengahan fase diestrus kelenjar endometrium berdegenerasi yang akhirnya tinnggal kelenjar-kelenjar permukaan yan g cetek. Dalam periode permulaan diestrus, corpus hemorrhagicum mengkerut karenadi bawah lapisan hemorrhargik ini tumbuh sel-sel kuning yang disebut luteum.
            Anestrus yang fisiologik umumnya bditandai oleh ovarium dan saluran kelamin yang tenang dan tidakyang fisiologik umumnya ditandai oleh ovarium dan saluran kelamin yang tenang dan tidak berfungsi. Anestrus normal akan diikuti oleh proestrus. Anestrus secara fisiologik dapat diobservasi pada kuda selama musim dingin dan musim panas.   
B.              OVULASI
1.      Pengertian ovulasi
           Ovulasi dapat didefinisikan sebagai pelepasan ovum dari folikel ke graaf. Jumlah telur yang diovulasikan oleh kedua ovaria pada suatu estrus berbeda-beda menurut jenis hewan mulai dari satu pada sapi dan kuda, sampai 18 sampai 20. Ovulation rate pada ternak tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor termasuk makanan, umur dan heriditas. Akan tetapi tidak satupun factor-faktor ini dapat menyebabkan pengurangan atau peninggian “ ovulasi rate” ovulasi terjadi pda ovarium
           Secara umum ovulasi distimuler oleh LH, tetapi mekanisme yang sebenarnnya tidak diketahui. Mungkin LH menyebabbkan pengendoran dinding folikel sehinnga lapisan-lapisan pecah dan melepaskan ovum dalam cairan folikfel. Cristal foilikel, suatu keadaan abnormal dimana folikel tidak pecah dan cairan folikel banyak tertimbun di dlamnnya, mungkin disebbabkan oleh kekurangan LH. Penyuntikan LH menyebabkan pecahnya cyste folikel. Akan tetapi penyuntikan LH tidak segera menyebabkan ovulasi . sesudah selesai ovulasi makan akan terbentuk corpus luteum di dalam folikel yang telah pecah dan mulai mengsekresikan progesterone. Selama corpus luteum tetap aktif menghasilkan progestron, kadar sekresi FSH oleh adenohytropysa tetap rendah dan folikel ovarii tidak berkembang.
           Pelepasan LH dari kelenjar Hypopisa ditimbulkan oleh mekanisme neurohormonal.  Pada spesies yang berovulasi secara tidak spontan rangsangan kopulasi dibawa oleh susunan syaraf ke bagian ventral hypothalamus. Hipotalamus akan mengsekresikan factor pelepas LH ke dalam aliran darah menuju adenohypopisa yang menyebabkan pelepasan LH dan ovulasi.
Gambar Proses Perkembangan Ovulasi
ovulationimage preview






            Proses ovulasi tidak berdiri sendiri. Proses ovulasi  merupakan bagian dari rangkaian proses yang panjang yang dinulai sejak berada dalam kandungan. Sebelum terjadi ovulasi berlangsung proses oogenesis. Oogenesis adalah suatu proses pembelahan sel dari oogonium menjadi oosit yang nantinya menjadi ootid. Selanjutnya ootid inilah yang nantinya mengalami ovulasi. 
2.                  Proses Oogenesis
            Oogenesis terjadi di ovarium. Di dalam ovarium banyak terdapat oogonium atau sel induk telur (ovum) yang bersifat diploid. Oogonium kemudian akan mengalami beberapa kali mitosis, dan pada akhir perkembangan embrional bulan ketiga setiap oogonium dikelilingi oleh selapis sel epitel yang berasal dari permukaan jaringan gonad, yang nantinya menjadi sel folikuler.
            Pada masa pubertas, sambil mulai terbentuk siklus menstruasi, oosit primer mulai melanjutkan pematangannya dengan kecepatan yang berbeda-beda. Pada saat ovulasi suatu siklus haid normal, yaitu sekitar dua minggu sebelum terjadinya pendarahan haid berikutnya, hanya satu folikel yang mengalami pematangan sampai tingkat lanjut dan keluar sebagai ovum ynag siap dibuahi.
           

            Kemudian antrum folikuli semakin membesar, sementara bagian tepi luar lapisan folikuler mulai dilapisi oleh dua lapisan sel ikat yaitu teka interna (lapisan seluler sebelah dalam yang akan menghasilakan estrogen) dan teka eksterna (lapisan fibrosa sebelah luar). Pada stadium ini folikel berada dalam stadium folikel tersiser atau folikel deGraff.
            Setelah mencapai pematangan folikel, oosit primer memasuki pembelahan meiosis kedua dengan menghasilkan dua sel anak yang masing-masing mengandung jumlah DNA separuh dari sel induk. Tetapi hanya satu sel anak ynag tumbuh menjadi oosit sekunder, sementara sel yang lainnya menjadi badan kutub polar yang tidak tumbuh lebih lanjut. .
            Jika terjadi pembuahan, oosit sekunder akan melanjutkan stadium pembelahan pematangan sampai menjadi oosit matang. Kemudian gengan menghasilkan satu buah badan polar lagi. Sementara badan polar hasil pembelahan sebelumnya diperkirakan akan mengalami satu kali pembelahan lagi. Jika terjadi pembuahan dan kehamilan, korpus luteum tetap aktif karena hormon progesteron yang dihasilakan berfungsi mempertahankan keseimbangan hormonal selama masa-masa awal kehamilan. Jika tidak terjadi pembuahan, oosit sekunder akan menagalami degenerasi dalam waktu sekitar 24-48 jam pasca ovulasi. Jika tidak terjadi pembuahan dan kehamilan sampai 9-10 hari sesudah ovulasi korpus luteum akan berdegenerasi dan mengalami fibrosis menjadi korpus albikans. Akibat degenerasi ini produksi progesteron akan menurun, menjadi stimulasi untuk terjadinya pendarahan haid selanjutnya.
3.      Hormon-Hormon yang Mempengaruhi Ovulasi Diantaranya :
1.  GnRH (Gonadotrophin Releasing Hormone)
            GnRH  dihasilkan di Hypothalamus  yang akan mempengaruhi anterior pituitary untuk menghasilkan hormon FSH (Folicle Stimulating Hormone) dan LH (Luitenizing Hormone).Kemudian FSH dan LH berfungsi untuk :
  • Stimulasi gamet
  • Stimulasi sekresi hormon reproduksi
  • Mempertahankan pertumbuhan/perkembangan struktur gonad.
2.      FSH (Folicle stimulating Hormone)
            Diproduksi di sel-sel basal hipofisis anterior ,sebagai respon terhadap GnRH. Berfungsi memicu pertumbuhan dan pematangan folikel dan sel-sel granulosa di ovarium wanita
3.      LH (Luitenizing Hormone)
            Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. Bersama FSH ,LH berfungsi memicu perkembangan folikel ( sel-sel teka dan granulosa) dan mencetuskan terjadinya ovulasi di pertengahan siklus  (LH-surge).
4.   Estrogen
            Estrogen diproduksi terutama oleh sel-sel teka interna folikel di ovarium secara primer , dan dalam jumlah lebih sedikit juga diproduksi di kelenjar adrenal melalui konversi hormon androgen. Berfungsi dalam stimulasi pertunbuhan dan perkembangan (proliferasi) pada berbagai organ reproduksi wanita. Pada uterus dapat menyebabkan proliferasi endometrium.
5.   Progesteron
            Progesteron diproduksi terutama di korpus luteum di ovarium, sebagian diproduksi di kelenjar adrenal dan pada kehamilan juga diproduksi di plasenta. Progesteron menyebabkan terjadinya proses perubahan sekretorik pada endometrium uterus, yang mempersiapkan endometrium uterus berada pada keadaan optimal jika terjadi implantasi.